Rabu, 27 Desember 2023

matahari

 1. Sajak Matahari

Karya: W.S. Rendra

Matahari bangkit dari sanubariku.
Menyentuh permukaan samodra raya.
Matahari keluar dari mulutku,
menjadi pelangi di cakrawala.

Wajahmu keluar dari jidatku,
wahai kamu, wanita miskin!
kakimu terbenam di dalam lumpur.
Kamu harapkan beras seperempat gantang,
dan di tengah sawah tuan tanah menanammu!

Satu juta lelaki gundul
keluar dari hutan belantara,
tubuh mereka terbalut lumpur
dan kepala mereka berkilatan
memantulkan cahaya matahari.
Mata mereka menyala
tubuh mereka menjadi bara
dan mereka membakar dunia.

Matahari adalah cakra jingga
yang dilepas tangan Sang Krishna.
Ia menjadi rahmat dan kutukanmu,
ya, umat manusia!

2. Kutimba di Sekolahku
Karya: Melani Elizabeth

Oh sekolahku...
Kau bagaikan istana rumahku
Tempat aku menimba ilmu
Dan juga tempat aku mencari kejuaraan

Sekolahku...
Sudah 2 tahun aku bersamamu
Berbagai kenangan yang telah ku lewati bersamamu
Dan tak akan kulupakan kenangan itu

Aku ingin sekolahku menjadi tempat pertamaku
Mencapai keinginan yang aku impikan
Dan juga untuk mengejar cita-cita yang...
Kupendam selama ini

Sekolahku
Terima kasih kau telah menjadikanku sebagai...
Murid yang pandai dan berprestasi
Dan terima kasih juga kepada guru - guru...
Yang selalu membimbing dan mengajariku.


balada cinta

 

W.S Rendra - Balada Orang-orang Tercinta (balada)

Kita bergantian menghirup asam

Batuk dan lemas terceruk

Marah dan terbaret-baret

Cinta membuat kita bertahan

dengan secuil redup harapan


Kita berjalan terseok-seok

Mengira lelah akan hilang

di ujung terowongan yang terang

Namun cinta tidak membawa kita

memahami satu sama lain


Kadang kita merasa beruntung

Namun harusnya kita merenung

Akankah kita sampai di altar

Dengan berlari terpatah-patah

Mengapa cinta tak mengajari kita


Untuk berhenti berpura-pura?

Kita meleleh dan tergerus

Serut-serut sinar matahari

Sementara kita sudah lupa

rasanya mengalir bersama kehidupan


Melupakan hal-hal kecil

yang dulu termaafkan

Mengapa kita saling menyembunyikan

Mengapa marah dengan keadaan?

Mengapa lari ketika sesuatu


membengkak jika dibiarkan?

Kita percaya pada cinta

Yang borok dan tak sederhana

Kita tertangkap jatuh terperangkap

Dalam balada orang-orang tercinta


Wiji Thukul - Puisi Untuk Adik (epigram)

apakah nasib kita akan terus seperti

sepeda rongsokam karatan itu?

o... tidak, dik!

kita akan terus melawan

waktu yang bijak bestari

kan sudah mengajari kita

bagaimana menghadapi derita

kitalah yang akan memberi senyum

kepada masa depan

jangan menyerahkan diri kepada ketakutan

kita akan terus bergulat

apakah nasib kita akan terus seperti

sepeda rongsokan karatan itu?

o... tidak, dik!

kita harus membaca lagi

agar bisa menuliskan isi kepala

dan memahami dunia

 

Hatiku selembar daun

 

Hatiku Selembar Daun

Hatiku selembar daun
melayang jatuh di rumput;

Nanti dulu,
biarkan aku sejenak terbaring di sini;
ada yang masih ingin kupandang,
yang selama ini senantiasa luput;

Sesaat adalah abadi
sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

Yang Fana Adalah Waktu

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

1978

Pada Suatu Hari Nanti

Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.

Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.

Kau akan tetap kusiasati,

Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.

Selalu bersama

 

    Di saat angin berembus dari laut bersamaan dengan matahari yang meninggalkan peraduannya. Menyinari separuh permukaan bumi, meneteskan butiran-butiran embun yang jatuh dari langit, warna hijau berseri menghiasi tanah yang membentang luas tak terhingga.

Berdiri sebuah rumah sederhana terbuat dari kayu pohon jati berkualitas rendahan yang sewaktu-waktu akan roboh ditiup angin maupun karena dimakan usia. Di sanalah sepasang suami istri bernama Zaini dan Azzahra menjalani kehidupan di sisa usianya.

    Pada musim kemarau, mereka terbangun melihat kebun yang tak lagi menghasilkan apa pun. Padahal hanya kebun itulah yang menjadi sumber kebutuhan mereka sehari-hari. Sedih dan rasa putus asa menyelimuti suasana hati mereka.

"Azzahra, tolong buatkan aku segelas teh hangat" pinta Zaini. 

Dengan langkah gemulai, Azzahra membawa segelas teh hangat yang diinginkan suaminya. Segera Zaini meminum teh itu sebelum kehangatannya mulai hilang. 

"Kok, rasanya begini?" bertanya dan memandang Zahra dengan tatapan sedingin es.

"Kita saat ini kehabisan gula dan bahan dapur lainnya," jawabnya dengan lembut.

    Ditatapnya lagi Azzahra, gadis berusia 24 tahun yang dinikahinya satu tahun lalu, meski bibirnya tak semerah buah naga, juga kulit dna rambutnya tak seputih salju dan selembut sutra. Namun, Zaini sangat mencintai Zahra begitu pula dirinya. Meski kemiskinan menjerat mereka berdua, Azzahra rela menyisakan hidupnya bersama Zaini hingga ajal menjemput. Dengan rasa ikhlas, Zaini meminum teh buatan istrinya tersebut.

Karena malam telah menyelimuti, Azzahra beranjak dari tempat duduknya dan meminta izin untuk beristirahat terlebih dahulu. Zaini terduduk membisu memandang gelasnya yang kosong, hingga saat ini Zaini merasa bahwa menit-menit yang berlalu pada saat itu adalah menit-menit terpanjang dalam hidupnya.

Detik-detik berjalan dengan sangat lambat, jedanya bagaikan seumur hidup. Terlintas di pikirannya hidup berbahagia selamanya. Melihat ketabahan dan senyuman Azzahra membuat Zaini semakin bersemangat melawan kerasnya dunia. Suka, duka, dan cinta ikhlas dijalani. Meski, hasilnya akan terkubur di dalam tanah pada suatu hari nanti.

 

broken home

 

    Semua orang pasti menginginkan kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua. Namun, mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah aku mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak akan bisa tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya bisa membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di hari-hari yang akan aku jalani. Perkenalkan namaku adalah Hanyfah. Aku akan menceritakan pengalamanku yang menyedihkan ini sama kalian semua semoga ini tidak akan pernah terjadi buat yang membacanya. Aminnn….

***

    Entah darimana aku harus memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi sebuah cobaan yang tidak bisa aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi keadaan ini. Aku benci keadaan ini. Aku benci diriku sendiri yang lemah. Aku membenci Ayah yang tak pernah bisa mengerti perasaan ibu mengapa Ayah harus menuruti permintaan nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit. Mengapa nenenk setega ini memisahkan Ayah dengan Ibu. Aku gak habis fikir semua yang ada di rumah ini harus menjadi orang yang gak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai seorang kakak, tapi percuma aku punya seorang kakak yang hanya membahagiakan dirinya sendiri, menjadi leleki yang selalu membuat situasi ini tak akn pernah berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tau keluarga kita sedang berantakan tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan dirikakak sendiri dibanding adik yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya. Aku tahu ibu memang wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan gak bisa berjalan seperti wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini dan ayah harus meninggalkan ibu dalam keadaan yang tak berdaya ini.

Saat itu, aku dan ibu sedang memasak dan saling bercerita.

 “ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir kedunia ini dan membuat keadaan ini tak pernah membaik, aku tau ibu selalu sedih dan terpukul saat Ayah ingin menceraikan ibu, maafkan aku ibu”? 

Menangis dan memeluk ibu.

“Nak, kau jangan pernah berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari tuhan untuk melengkapi keluarga ini. Ayah, munkin bersikap seperti itu karana dia tidak bisa menerima ibu seperti wanita yang sempurna.” 

Mencoba terlihat tegar dihadapanku.

“ Ibu, bagiku kau adalah wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa ayah jahat sama kita, apakah ayah udah gak sayang lagi sama kita”?   terus menangis.

“ Ayah tidak jahat sama kita nak, ayah sayang sama kita.” Kata ibu meyakinkanku. 

“Lalu mengapa kalo ayah sayang sama kita, ayah harus memilih berpisah ruamah. Aku benci sama ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar ayah saat lewat. 

“Apa! Kamu membenci ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada ayah!”.kata ayah dengan nadak kasar dan marah.

 “ Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini sama ibu.Apa salah ibu ayah sampai ayah membuat ibu menangis, ibu sangat mencintaimu dan menyayagimu tapi apa balasanmu ibu, kau hanya pada membuatnya sakit hati dan menangis.” Kataku dengan kesal.

 “ Ayah melakukan semua ini demi kebaikan kita semua. Kamu harus tau itu Hany.” Dengan nada menenangkanku.

“ Sudahlah hany ibu tidak apa-apa kalau memang itu yang terbaik buat keluarga kita,ibu tak keberatan dan kamu Ayah sebaiknya kita memang lebih baik berpisah agar kau lebih tenang dengan hidupmu.”

 Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun berlari masuk kekamar denan terus menangis tanpa henti dan berkata      “ Aku benci sama ayah”!.

    Hingga aku tak mampu menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak mampu untuk aku hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima ibu tinggal bersama kaka dan aku harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi manjalani masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan dengan apapun. Saat itu aku mendengar ayah bersama ibu bertengkar di ruang tamu dan aku berada di kamarku.

“kamu bukanya sebagai ibu mengajari anakntya dengan sopan santun malah membuatnya membenci ayahnya sendiri, ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar.

“Harusnya kamu sebagai ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini lebih mengutamakan anakmu dibanding memilih untuk berpisah. Apa kau tak kasian dengan mereka yang setiap hari mendengar kita berantem seperti ini!”. 

Menangis tanpa henti. Lalu aku pun sudah takuat lagi mendengar mereka bertengkar setiap hari akau malu dengan teman-temanku mereka selalu bahagia yang selalu menyayagi mereka, tapi kenapa aku gak memilikinya, semua ini gak adail. Aku pergi keluar dan menghentikan pertengkaran ayah dan ibu.

“Berhenti! Apa kalian ini tak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa kalian belum cukup membuatku menangis harus menahan rasa kekecewaan ini,mungkin ayah dan ibu bahagian denan keadaan ini tapi aku gak sama sekali ayah,ibu. Aku ini anak kalian harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anaknya bukanya seperti ini. Tak mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat kecewa.

“Lihat itu anak kamu. Hany terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memeisahkan aku dengannya.” Kata ibu dengan tegas.

“ Aku memang memisahkan kalian. Aku tidak mau mempunyai seorang istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak bisa merawat anak kita dengan baik karena kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi aku akan menceraikanmu dan mencari ibu yang mamapu membuat hany bahagia.” Kata ayah dengan penuh amarah.

“Diam! Tidak bisakah kalian diam. Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa ayah tidak mempunyai perasaan dengan ibu, sehingga kau mampu untuk melupakannya dan memutuskan untuk menikah lagi. Baiklah ayah ceraikan ibu! Lebih baik ayah menceraikan ibu dari pada ibu menahan sakit hati yang begitu dalam. Aku benci ayah!”. Menangis dan keluar dari rumah.

“Hany, kau mau kemana nak? Jangan dengarkan ayahmu dia hanya bercanda,kembalilah nak?” berlari mengejarku.

“ Aku tak mau punya ayah yang gak punya perasaan. Biarkan akau pergi untuk sementara waktu untuk menenangkan hati ini ibu. Maafkan aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang jalan.

    Setelah kejadian itu, aku menjadi anak yang Broken Home dan terus menjalani kehidupan yang sering kali aku tak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam, nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku memutuskan untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang membuatku tak tahan untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya ku tak ingin melakukan ini semua tapi aku tak tahan dengan semua yang aku hadapi aku menjadi korban dalam pertengkara ibu dan ayah. Ibu maafkan aku melakukan ini aku telah menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, aku berjanji dengan kepergianku ini aku akan menjadi anak yang baik dan aku akan kembali setelah aku bisa membalas semua jasamu. 

Akau ingin membahagiakanmu dan memberikan yang terbaik untuk ibu. Semoga ibu disana baik-baik saja. Ayah, aku tahu ayah malu dengan keadaan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau tega menceraikan ibu dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari ibu. Ayah harus tahu ibu sangat mencintai ayah seperti aku mencintai ayah. Semoga dengan kepergianku ini kalian bisa memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kalian. I Love you Ded, I love you Mom, Your My Everything……..

Selesai………

Selasa, 26 Desember 2023

Coklat misterius


Saat kami berdua ingin masuk kelas, tiba tiba di atas mejaku ada coklat dan surat.

“Hell, di atas meja kamu kok ada coklat sama surat? dari siapa tuh?” tanya Bryan

“aku juga enggak tau siapa yang naru” jawabku dengan perasaan bingung

“coba kamu baca suratnya deh, siapa tau ada nama pengirim nya!” seru Bryan

Akupun langsung membuka surat itu :

“coklat ini ku persembahkan untukmu,semoga kamu suka. Kamu tau kan manis nya coklat? semanis itulah senyummu yang selalu ku tunggu”

Begitulah isi suratnya. Tanpa nama dan sangat misterius.

“Hell gimana, siapa pengirim nya?” tanya Bryan

“entahlah, aku enggak tau” jawabku dengan nada rendah

“ya udah lain kali kita cari tau ya!” kata Bryan

Kami berdua pun duduk, untuk mengikuti pelajaran, Bryan duduk di samping aku. Selama dua jam pelajaran aku bener bener enggak serius, aku masih kepikiran siapa pengirim nya.

Tiba tiba Bryan mengagetkan ku.

“hayo lagi mikirin apa sih?” tanya Bryan

“Aaa… Emm.. eehh… enggak kok” jawabku gugup

“Bohong. Ah males aku sama kamu, sekarang main rahasiaan ya. Ok kalau begitu” Kata Bryan sambil meninggalkan ku

“eh Bryan tunggu, mau kemana? kitakan sahabat masa marah sih?” kataku membujuk Bryan

“habis kamu sekarang main rahasiaan sih” jawab Bryan

“iya deh maaf maaf aku enggak akan begitu lagi” jawabku

Kami pun baikan lagi.

Bell pulang sekolah pun berbunyi, aku pulang berdua sama Bryan karena rumah kami tidak terlalu jauh.

Esok pagi akupun sekolah. Ku lihat di atas meja ku ada coklat dan surat.

“siapa sih yang ngasih seperti ini untuk ku?” tanyaku dalam hati

Tiba-tiba Bryan datang.

“hey Hell, dapat coklat lagi?” tanya Bryan

“iya nih, aku bingung siapa yang ngirim!” jawabku

“mungkin pengirim nya itu naksir sama kamu kali” ledek Bryan

“hahaha lucu kamu ya” tawaku

Seminggu, dua minggu, tiga minggu telah berlalu. tetapi pengirim coklat misterius itu masih belum diketahui. Karena penasaran aku pun sengaja pergi sekolah lebih awal.

Saat sampai di sekolah.

“lho kok pintunya sudah kebuka? lampunya juga sudah nyala? bukannya jam 05.30 ya pintu ini mulai di buka? kan belum ada murid yang datang” tanyaku dalam hati

“ya sudahlah aku masuk aja barangkali di dalam ad petunjuknya” pikirku

Saat didalam aku melihat laki laki sebayaku sedang menaruh coklat dan surat di atas mejaku.

“siapa kamu?” tanyaku dengan nada tinggi

Laki laki itu tidak berani menoleh ke arahku, akhirnya aku pun menghampirinya.

“Bryan…??” jadi pengirim coklat itu kamu?” tanyaku yang tak menyangka.

“Rachell maaf aku sudah bohongin kamu, aku enggak punya maksud apa apa kok. Aku cuma…” perkataan Bryan terputus

“cuma apa?” tanyaku

“aku suka sama kamu…” kata Bryan sedikit berteriak

Suasana hening sejenak.

“maaf kalau sudah buat kamu merasa enggak nyaman. Anggap saja tadi hanya lelucon” kata Bryan sambil pergi meninggalkanku

“tunggu Bryan. Aku juga suka sama kamu” teriak ku kepada Bryan. Bryan menoleh ke arahku sambil memberi ku senyuman.

(Sumber : Sonara.id)