Semua orang pasti menginginkan
kehidupan yang nyaman, harmonis dan juga mendapat kasih sayang dari orangtua.
Namun, mengapa aku tidak pernah bisa memiliki kehidupan itu. Tak pantaskah aku
mendapatkannya? Sesungguhnya, sebuah kasih sayang dari orang tua tak akan bisa
tergantikan dengan apapun. Aku yakin Allah merencanakan semua ini adalah yang
terbaik buatku dan juga keluargaku. Semoga dengan aku menceritakan semuanya
bisa membuat perasaan ini jauh lebih baik dan tak akan ada kesedihan lagi di
hari-hari yang akan aku jalani. Perkenalkan namaku adalah Hanyfah. Aku akan
menceritakan pengalamanku yang menyedihkan ini sama kalian semua semoga ini
tidak akan pernah terjadi buat yang membacanya. Aminnn….
***
Entah darimana aku harus
memulai ini semua, Seorang ibu yang terus bersabar mengadapi sebuah cobaan yang
tidak bisa aku bayangkan membuatku setiap hari harus menangisi keadaan ini. Aku
benci keadaan ini. Aku benci diriku sendiri yang lemah. Aku membenci Ayah yang
tak pernah bisa mengerti perasaan ibu mengapa Ayah harus menuruti permintaan
nenek yang membuat keadaan ini semakin rumit. Mengapa nenenk setega ini
memisahkan Ayah dengan Ibu. Aku gak habis fikir semua yang ada di rumah ini
harus menjadi orang yang gak punya perasaan sama sekali. Aku juga mempunyai
seorang kakak, tapi percuma aku punya seorang kakak yang hanya membahagiakan
dirinya sendiri, menjadi leleki yang selalu membuat situasi ini tak akn pernah
berakhir dari pertengkaran. Harusnya kakak tau keluarga kita sedang berantakan
tapi masih sempat-sempatnya kakak memikirkan dirikakak sendiri dibanding adik
yang selalu disalahkan di hadapan Ayah. Aku benci semuanya. Aku tahu ibu memang
wanita yang tak sempurna dia mempunyai kekurangan gak bisa berjalan seperti
wanita normal, tapi apakah mereka harus berpisah rumah seperti ini dan ayah
harus meninggalkan ibu dalam keadaan yang tak berdaya ini.
Saat itu, aku dan ibu
sedang memasak dan saling bercerita.
“ Ibu, maafkan aku jika aku harus lahir
kedunia ini dan membuat keadaan ini tak pernah membaik, aku tau ibu selalu
sedih dan terpukul saat Ayah ingin menceraikan ibu, maafkan aku ibu”?
Menangis
dan memeluk ibu.
“Nak, kau jangan pernah
berbicara seperti itu, Kamu adalah anak ibu yang dianugrahkan dari tuhan untuk
melengkapi keluarga ini. Ayah, munkin bersikap seperti itu karana dia tidak
bisa menerima ibu seperti wanita yang sempurna.”
Mencoba terlihat tegar dihadapanku.
“ Ibu, bagiku kau adalah
wanita yang sempurna yang pernah ku miliki. Mengapa ayah jahat sama kita,
apakah ayah udah gak sayang lagi sama kita”? terus menangis.
“ Ayah tidak jahat sama
kita nak, ayah sayang sama kita.” Kata ibu meyakinkanku.
“Lalu mengapa kalo
ayah sayang sama kita, ayah harus memilih berpisah ruamah. Aku benci sama
ayah.” Dengan nada yang keras hingga terdengar ayah saat lewat.
“Apa! Kamu
membenci ayah, berani-beraninya kau mengatakan itu pada ayah!”.kata ayah dengan
nadak kasar dan marah.
“ Ayah, kenapa ayah tega melakukan semua ini sama
ibu.Apa salah ibu ayah sampai ayah membuat ibu menangis, ibu sangat mencintaimu
dan menyayagimu tapi apa balasanmu ibu, kau hanya pada membuatnya sakit hati
dan menangis.” Kataku dengan kesal.
“ Ayah melakukan semua ini demi kebaikan
kita semua. Kamu harus tau itu Hany.” Dengan nada menenangkanku.
“ Sudahlah hany ibu tidak
apa-apa kalau memang itu yang terbaik buat keluarga kita,ibu tak keberatan dan
kamu Ayah sebaiknya kita memang lebih baik berpisah agar kau lebih tenang
dengan hidupmu.”
Sedikit kesal dan terus menangis. Lalu akupun berlari masuk
kekamar denan terus menangis tanpa henti dan berkata “ Aku benci sama ayah”!.
Hingga aku tak mampu
menahan beban yang ku hadapi ini. Semakin lama semakin tak mampu untuk aku
hadapi bagaimana mungkin aku harus menerima ibu tinggal bersama kaka dan aku
harus tinggal bersama ayah. Aku ingin keluarga kita utuh seperti dulu lagi
manjalani masa-masa yang indah dengan canda tawa yang tak bisa tergantikan
dengan apapun. Saat itu aku mendengar ayah bersama ibu bertengkar di ruang tamu
dan aku berada di kamarku.
“kamu bukanya sebagai ibu
mengajari anakntya dengan sopan santun malah membuatnya membenci ayahnya
sendiri, ibu macam apa kamu ini!” dengan nada kasar.
“Harusnya kamu sebagai
ayah yang bertanggung jawab di keluarga ini lebih mengutamakan anakmu dibanding
memilih untuk berpisah. Apa kau tak kasian dengan mereka yang setiap hari
mendengar kita berantem seperti ini!”.
Menangis tanpa henti. Lalu aku pun sudah
takuat lagi mendengar mereka bertengkar setiap hari akau malu dengan
teman-temanku mereka selalu bahagia yang selalu menyayagi mereka, tapi kenapa
aku gak memilikinya, semua ini gak adail. Aku pergi keluar dan menghentikan
pertengkaran ayah dan ibu.
“Berhenti! Apa kalian ini
tak malu dengan anakmu yang terus melihat kalian seperti ini. Apa kalian belum
cukup membuatku menangis harus menahan rasa kekecewaan ini,mungkin ayah dan ibu
bahagian denan keadaan ini tapi aku gak sama sekali ayah,ibu. Aku ini anak
kalian harusnya kalian memberikan contoh yang baik kepada anaknya bukanya
seperti ini. Tak mengertikah kalian dengan perasaanku.” Menangis dan sangat
kecewa.
“Lihat itu anak kamu.
Hany terlalu kecil untuk menerima ini semua apakah kau tega memeisahkan aku
dengannya.” Kata ibu dengan tegas.
“ Aku memang memisahkan
kalian. Aku tidak mau mempunyai seorang istri yang lumpuh seperti kamu! Tidak
bisa merawat anak kita dengan baik karena kau tak bisa berjalan. Sebentar lagi
aku akan menceraikanmu dan mencari ibu yang mamapu membuat hany bahagia.” Kata
ayah dengan penuh amarah.
“Diam! Tidak bisakah
kalian diam. Semua ini membuatku tersiksa. Ayah, apa ayah tidak mempunyai
perasaan dengan ibu, sehingga kau mampu untuk melupakannya dan memutuskan untuk
menikah lagi. Baiklah ayah ceraikan ibu! Lebih baik ayah menceraikan ibu dari pada
ibu menahan sakit hati yang begitu dalam. Aku benci ayah!”. Menangis dan keluar
dari rumah.
“Hany, kau mau kemana
nak? Jangan dengarkan ayahmu dia hanya bercanda,kembalilah nak?” berlari
mengejarku.
“ Aku tak mau punya ayah
yang gak punya perasaan. Biarkan akau pergi untuk sementara waktu untuk
menenangkan hati ini ibu. Maafkan aku.” Pergi dan terus menangis sepanjang
jalan.
Setelah kejadian itu, aku
menjadi anak yang Broken Home dan terus menjalani kehidupan yang sering kali
aku tak bisa berfikir positif. Setiap hari aku disekolah menjadi anak pendiam,
nilai pelajaranku turun semua kehidupan ku menjadi berantakan. Hingga aku
memutuskan untuk pergi jauh dari rumah agar aku tak mendengar pertengkaran yang
membuatku tak tahan untuk tinggal dirumahku sendiri. Sebenarnya ku tak ingin
melakukan ini semua tapi aku tak tahan dengan semua yang aku hadapi aku menjadi
korban dalam pertengkara ibu dan ayah. Ibu maafkan aku melakukan ini aku telah
menjadi anak yang tidak berbakti kepada orangtua, aku berjanji dengan
kepergianku ini aku akan menjadi anak yang baik dan aku akan kembali setelah
aku bisa membalas semua jasamu.
Akau ingin membahagiakanmu dan memberikan yang
terbaik untuk ibu. Semoga ibu disana baik-baik saja. Ayah, aku tahu ayah malu
dengan keadaan ibu yang tidak bisa berbuat apa-apa, tapi tak seharusnya kau
tega menceraikan ibu dan mencari wanita lain yang jauh lebih sempurna dari ibu.
Ayah harus tahu ibu sangat mencintai ayah seperti aku mencintai ayah. Semoga
dengan kepergianku ini kalian bisa memikirkan hidup kalian masing-masing. Suatu saat nanti aku akan kembali untuk kalian. I Love you Ded, I love
you Mom, Your My Everything……..
Selesai………