W.S Rendra - Balada Orang-orang Tercinta (balada)
Kita bergantian menghirup asam
Batuk dan lemas terceruk
Marah dan terbaret-baret
Cinta membuat kita bertahan
dengan secuil redup harapan
Kita berjalan terseok-seok
Mengira lelah akan hilang
di ujung terowongan yang
terang
Namun cinta tidak membawa kita
memahami satu sama lain
Kadang kita merasa beruntung
Namun harusnya kita merenung
Akankah kita sampai di altar
Dengan berlari terpatah-patah
Mengapa cinta tak mengajari
kita
Untuk berhenti berpura-pura?
Kita meleleh dan tergerus
Serut-serut sinar matahari
Sementara kita sudah lupa
rasanya mengalir bersama
kehidupan
Melupakan hal-hal kecil
yang dulu termaafkan
Mengapa kita saling
menyembunyikan
Mengapa marah dengan keadaan?
Mengapa lari ketika sesuatu
membengkak jika dibiarkan?
Kita percaya pada cinta
Yang borok dan tak sederhana
Kita tertangkap jatuh
terperangkap
Dalam balada orang-orang tercinta
Wiji Thukul - Puisi Untuk Adik (epigram)
apakah nasib kita akan terus
seperti
sepeda rongsokam karatan itu?
o... tidak, dik!
kita akan terus melawan
waktu yang bijak bestari
kan sudah mengajari kita
bagaimana menghadapi derita
kitalah yang akan memberi
senyum
kepada masa depan
jangan menyerahkan diri kepada
ketakutan
kita akan terus bergulat
apakah nasib kita akan terus
seperti
sepeda rongsokan karatan itu?
o... tidak, dik!
kita harus membaca
lagi
agar bisa
menuliskan isi kepala
dan memahami dunia






0 komentar:
Posting Komentar